Sebuah pulau kecil
Desiran ombak disertai pantulan cahaya matahari mengawali pagiku yang
indah, suasana dipantai ini tidak pernah aku lupakan hingga nafasku terhenti.
Pandanganku menerawang keseluruh bagian pulau ini. Indah dan penuh kenangan
desahku dalam hati. Tak ada satu bagianpun yang terlewatkan dari pandanganku. Semua
penghuni pulau ini seakan telah tersadar dari mimpi panjangnya, kini mereka
sibuk dengan rutinitas hariannya. Tak luput dari pandanganku sebuah kapal nelayan
kecil nan sederhana yang beranjak pergi meninggalkan bibir pantai dengan penuh
semangat, meninggalkan daratan yang tenang untuk mencari sesuatu yang tersimpan
dibalik terjangan ombak yang ganas dengan niat untuk memberikan kehidupan yang
layak bagi keluarga tercinta.
Perlahan aku berjalan di atas pasir putih dan menikmati belaian lembut air
laut yang menari-nari indah ditepi pantai. Sejenak aku meratap setiap aktifitas
yang dilakukan penduduk pulau ini, semuanya mereka lakukan dengan semangat dan
harapan yang tinggi. Suatu hal nyata yang menjadi penyemangat mereka adalah
waktu terus berjalan dan waktu takkan bisa diulang kembali, maju terus dan
lakukan hal yang berguna. Bahkan tidak ada waktu bagi mereka untuk memikirkan
kerugian yang akan ditanggung, bagi mereka bertindak adalah cara yang tepat
untuk menyelesaikan masalah dari pada tidak melakukan apapun. Hal yang paling
menarik dipulau ini adalah kebersamaannya, saling tolong menolong dalam segala
hal. Satu pelajaran hidup yang aku dapatkan, memang sederhana namun penuh
makna.
Bertindak, sebuah kata yang sederhana namun memiliki makna yang besar.
Satu kata yang telah menyadarkanku dari keterpurukanku selama ini, sebuah kata
semangat dari pulau kecil yang berpenghunikan masyarakat yang hidup dengan
penuh kesederhanaan. Hal itu lah yang menyadarkanku bahwa pelajaran hidup itu
bisa didapat dari siapa saja dan dimana saja tanpa memandang status sosial
ataupun pendidikan, karena pelajaran hidup adalah real bukan sebuah teori yang
hanya dibaca, hidup itu harus bertindak dan bergerak untuk maju.
Semilir angin yang menari indah dipermukaan laut memaksa untuk menciptakan
ombak dan menghempaskannya ditepi pantai. Kini memoriku kembali terputar ulang
dengan cepat kemasa lalu, sebuah kejadian yang membuat jantungku tak mampu
untuk berdetak dengan tenang. Kejadian yang sempat membuat hari-hariku
dibayangi rasa bersalah. Aku adalah seorang dokter terkenal, banyak pasien yang
telah aku bantu untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya. Semua orang
mengenalku dan mengagung-agungkan namaku, aku dokter muda yang berprestasi
dengan segudang penghargaan yang pernah aku dapatkan.
Aku sadar bahwa aku bukanlah dokter yang hebat, bahkan aku tak pantas
untuk dikenang, semua penghargaan yang pernah aku peroleh seakan hampa, semua
tidak lah berarti karena kini aku tak mampu untuk berbuat apa-apa, bahkan untuk
menghadapi masalah seperti ini aku tak mampu desah batinku. Aku
terdiam sesaat, mengenang sebuah kesalahan yang nyaris membuat nyawa pasienku
melayang karena kebodohanku. Kejadian itu masih jelas dalam benakku, tepat tiga
bulan yang lalu ada seorang pasien miskin yang datang kerumah sakit tempat aku
bekerja, datang menggunakan mobil ambulance rumah sakit, tubuh pasien tersebut
lemah dan berlumuran darah, semua keluarga yang mengantarnya menangis
tersedu-sedu, dengan segera aku berlari-lari kecil keruangan UGD rumah sakit,
memeriksa keadaan pasien dan membantu perawat untuk melakukan pemasangan infus
dengan tepat.
Setelah semua selesai dan aku pastikan bahwa keadaan pasien akan baik-baik
saja, akupun meminta salah seorang dari keluarga korban untuk menemuiku
diruangan yang terletak dipojok bangunan tersebut, kemudian aku memberikan
resep obat yang harus dibeli keluarga korban untuk pengobatan pasien, dengan
tersedu-sedu seorang wanita tua yang mengaku sebagai ibu korban tersebut
memohon kepadaku agar memberikan keringanan pembiayaan atas pengobatan anaknya,
dan memohon agar aku memberikan obat gratis kepadanya.
Entah apa yang ada dalam benakku saat itu, aku jelaskan dengan lembut dan
dengan penjelasan yang mudah dipahami kepada ibu itu, namun dia tetap kukuh
untuk mendapatkan pelayanan pengobatan yang gratis dariku, aku kemudian
membentak seorang ibu tua itu dan mengatakan kepadanya bahwa jika tidak mampu
untuk membiayai keperluan pasien maka pasien itu harus dibawa kerumah sakit
lain yang bisa memberikan pengobatan gratis, dengan tersedu-sedu ibu itu pun
menangis dan pamit keluar dari ruanganku.
Satu jam kemudian, seorang perawat wanita dengan wajah manis mengetuk
ruanganku dan mengatakan kepadaku bahwa pasien miskin korban tabrak lari itu
mengalami gangguan pernapasan, dan dia memintaku untuk membantunya untuk
mengatasi hal ini, dengan lantang dan tanpa rasa bersalah aku mengatakan bahwa
aku tidak bisa menolong korban itu karena keluarganya tidak punya cukup uang
untuk membayar pengobatan yang akan aku lakukan, dengan gemetaran perawat berwajah
manis itu pun meneteskan air mata dan mengatakan bahwa dialah yang akan
menanggung semua biaya pengobatan pasien tersebut. Aku menatapnya dengan
kebingungan, ada getaran dalam dadaku dan setelah itu akupun beranjak pergi
mengikuti langkahnya yang lebih dulu menuju ruang UGD dimana pasien tersebut
ditempatkan, dengan cepat aku lakukan pertolongan kepada pasien, syukur aku
tidak datang terlambat sehingga pasien bisa aku selamatkan, setelah itu kutatap
semua wajah keluarga korban, kini aku sungguh merasa bersalah karena
kebodohanku aku nyaris membuat nyawa pasien melayang.
Kejadian itulah yang membawaku kepulau kecil nan bersahaja ini, aku pergi
kepulau ini untuk sekedar menenangkan diri dan belajar tentang kehidupan dengan
sederhana, aku terpuruk atas pemikiranku sendiri dan kini rasa bersalah yang
membelenggu hatiku. Aku harus bertindak, aku harus bangkit, aku harus memenuhi
sumpah dokter yang pernah aku ucapkan, semua manusia pernah melakukan kesalahan
bagitupun dengan aku, biarlah itu semua menjadi pengalaman yang tak terlupakan,
kini aku harus bangkit dan menyelamatkan pasien yang butuh pertolonganku desah
batinku. Hemmmmm hembusan nafas panjang memberikanku energy baru dan
mengembalikan kepercayaan diriku kembali. Dari pulau kecil dan sederhana ini
lah aku mendapat suatu pelajaran hidup yang tak ternilai, bertindaklah dan
lakukan hal yang berguna serta jangan pernah memikirkan keuntungan materi yang
akan diterima karena hal itu akan
menjadikan kita sebagai orang yang materalistis, sebuah nasehat sederhana
dari seorang nelayan kapal kecil.