Minggu, 14 Desember 2014

cerpen


Sebuah pulau kecil
Desiran ombak disertai pantulan cahaya matahari mengawali pagiku yang indah, suasana dipantai ini tidak pernah aku lupakan hingga nafasku terhenti. Pandanganku menerawang keseluruh bagian pulau ini. Indah dan penuh kenangan desahku dalam hati. Tak ada satu bagianpun yang terlewatkan dari pandanganku. Semua penghuni pulau ini seakan telah tersadar dari mimpi panjangnya, kini mereka sibuk dengan rutinitas hariannya. Tak luput dari pandanganku sebuah kapal nelayan kecil nan sederhana yang beranjak pergi meninggalkan bibir pantai dengan penuh semangat, meninggalkan daratan yang tenang untuk mencari sesuatu yang tersimpan dibalik terjangan ombak yang ganas dengan niat untuk memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga tercinta.

Perlahan aku berjalan di atas pasir putih dan menikmati belaian lembut air laut yang menari-nari indah ditepi pantai. Sejenak aku meratap setiap aktifitas yang dilakukan penduduk pulau ini, semuanya mereka lakukan dengan semangat dan harapan yang tinggi. Suatu hal nyata yang menjadi penyemangat mereka adalah waktu terus berjalan dan waktu takkan bisa diulang kembali, maju terus dan lakukan hal yang berguna. Bahkan tidak ada waktu bagi mereka untuk memikirkan kerugian yang akan ditanggung, bagi mereka bertindak adalah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah dari pada tidak melakukan apapun. Hal yang paling menarik dipulau ini adalah kebersamaannya, saling tolong menolong dalam segala hal. Satu pelajaran hidup yang aku dapatkan, memang sederhana namun penuh makna.

Bertindak, sebuah kata yang sederhana namun memiliki makna yang besar. Satu kata yang telah menyadarkanku dari keterpurukanku selama ini, sebuah kata semangat dari pulau kecil yang berpenghunikan masyarakat yang hidup dengan penuh kesederhanaan. Hal itu lah yang menyadarkanku bahwa pelajaran hidup itu bisa didapat dari siapa saja dan dimana saja tanpa memandang status sosial ataupun pendidikan, karena pelajaran hidup adalah real bukan sebuah teori yang hanya dibaca, hidup itu harus bertindak dan bergerak untuk maju.

Semilir angin yang menari indah dipermukaan laut memaksa untuk menciptakan ombak dan menghempaskannya ditepi pantai. Kini memoriku kembali terputar ulang dengan cepat kemasa lalu, sebuah kejadian yang membuat jantungku tak mampu untuk berdetak dengan tenang. Kejadian yang sempat membuat hari-hariku dibayangi rasa bersalah. Aku adalah seorang dokter terkenal, banyak pasien yang telah aku bantu untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya. Semua orang mengenalku dan mengagung-agungkan namaku, aku dokter muda yang berprestasi dengan segudang penghargaan yang pernah aku dapatkan.

Aku sadar bahwa aku bukanlah dokter yang hebat, bahkan aku tak pantas untuk dikenang, semua penghargaan yang pernah aku peroleh seakan hampa, semua tidak lah berarti karena kini aku tak mampu untuk berbuat apa-apa, bahkan untuk menghadapi masalah seperti ini aku tak mampu desah batinku. Aku terdiam sesaat, mengenang sebuah kesalahan yang nyaris membuat nyawa pasienku melayang karena kebodohanku. Kejadian itu masih jelas dalam benakku, tepat tiga bulan yang lalu ada seorang pasien miskin yang datang kerumah sakit tempat aku bekerja, datang menggunakan mobil ambulance rumah sakit, tubuh pasien tersebut lemah dan berlumuran darah, semua keluarga yang mengantarnya menangis tersedu-sedu, dengan segera aku berlari-lari kecil keruangan UGD rumah sakit, memeriksa keadaan pasien dan membantu perawat untuk melakukan pemasangan infus dengan tepat.

Setelah semua selesai dan aku pastikan bahwa keadaan pasien akan baik-baik saja, akupun meminta salah seorang dari keluarga korban untuk menemuiku diruangan yang terletak dipojok bangunan tersebut, kemudian aku memberikan resep obat yang harus dibeli keluarga korban untuk pengobatan pasien, dengan tersedu-sedu seorang wanita tua yang mengaku sebagai ibu korban tersebut memohon kepadaku agar memberikan keringanan pembiayaan atas pengobatan anaknya, dan memohon agar aku memberikan obat gratis kepadanya.

Entah apa yang ada dalam benakku saat itu, aku jelaskan dengan lembut dan dengan penjelasan yang mudah dipahami kepada ibu itu, namun dia tetap kukuh untuk mendapatkan pelayanan pengobatan yang gratis dariku, aku kemudian membentak seorang ibu tua itu dan mengatakan kepadanya bahwa jika tidak mampu untuk membiayai keperluan pasien maka pasien itu harus dibawa kerumah sakit lain yang bisa memberikan pengobatan gratis, dengan tersedu-sedu ibu itu pun menangis dan pamit keluar dari ruanganku.

Satu jam kemudian, seorang perawat wanita dengan wajah manis mengetuk ruanganku dan mengatakan kepadaku bahwa pasien miskin korban tabrak lari itu mengalami gangguan pernapasan, dan dia memintaku untuk membantunya untuk mengatasi hal ini, dengan lantang dan tanpa rasa bersalah aku mengatakan bahwa aku tidak bisa menolong korban itu karena keluarganya tidak punya cukup uang untuk membayar pengobatan yang akan aku lakukan, dengan gemetaran perawat berwajah manis itu pun meneteskan air mata dan mengatakan bahwa dialah yang akan menanggung semua biaya pengobatan pasien tersebut. Aku menatapnya dengan kebingungan, ada getaran dalam dadaku dan setelah itu akupun beranjak pergi mengikuti langkahnya yang lebih dulu menuju ruang UGD dimana pasien tersebut ditempatkan, dengan cepat aku lakukan pertolongan kepada pasien, syukur aku tidak datang terlambat sehingga pasien bisa aku selamatkan, setelah itu kutatap semua wajah keluarga korban, kini aku sungguh merasa bersalah karena kebodohanku aku nyaris membuat nyawa pasien melayang.

Kejadian itulah yang membawaku kepulau kecil nan bersahaja ini, aku pergi kepulau ini untuk sekedar menenangkan diri dan belajar tentang kehidupan dengan sederhana, aku terpuruk atas pemikiranku sendiri dan kini rasa bersalah yang membelenggu hatiku. Aku harus bertindak, aku harus bangkit, aku harus memenuhi sumpah dokter yang pernah aku ucapkan, semua manusia pernah melakukan kesalahan bagitupun dengan aku, biarlah itu semua menjadi pengalaman yang tak terlupakan, kini aku harus bangkit dan menyelamatkan pasien yang butuh pertolonganku desah batinku. Hemmmmm hembusan nafas panjang memberikanku energy baru dan mengembalikan kepercayaan diriku kembali. Dari pulau kecil dan sederhana ini lah aku mendapat suatu pelajaran hidup yang tak ternilai, bertindaklah dan lakukan hal yang berguna serta jangan pernah memikirkan keuntungan materi yang akan diterima  karena hal itu akan menjadikan kita sebagai orang yang materalistis, sebuah nasehat sederhana dari seorang nelayan kapal kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar